Connect with us

Politik

Henry: Andi Arief Itu Kriminal Narkoba, bukan Korban

Published

on

Jakarta,Realitarakyat.com. – Anggota Fraksi PDIP MPR RI, Henry Yosodiningrat menegaskan jika Wasekjen Demokrat Andi Arief (AA) itu sebagai pengguna narkoba, tak bisa dipulangkan begitu saja, tanpa putusan hakim. AA itu pelaku kriminal narkoba, bukan korban.

“Yang berhak memutuskan pengguna narkoba itu direhabilitasi atau tidak itu hakim, bukan polisi. Makanya tidak benar, kalau AA dipulangkan itu karena tidak terbukti menggunakan narkoba,” tegas Henry di Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Jumat (8/3/2019).

Demikian disampaikan Henry dalam dialog Empat Pilar MPR ‘Narkoba dan Kehancuran Kedaulatan NKRI’  bersama anggota Fraksi NasDem MPR RI Taufiqulhadi, dan mantan Kabag Humas BNN, Kombes Pol Sulistiandriatmoko.

AA itu lanjut Henry, sudah terbukti dan bukti itu sudah jelas di kamar hotel bersama perempuan, ada bong di kloset, urine, dan lain-lain. “Jadi, dipulangkannya Andi Arief itu bukan karena tidak terbukti, melainkan tetap menjadi tersangka. Dan, yang putuskan direhabilitasi atau tidak itu hakim,” ujarnya.

Karena itu tak benar kalau AA mengklaim dirinya bukan kriminal, tapi bukan korban. “Yang namanya korban itu anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Kalau AA itu sudah dewasa, bawa perempuan, ada kondom, ada bong dan lain-lain. “Kalau AA bilang bukan kriminal, itu namanya dia lagi sakau, fly, ngacau. Tulis itu, saya tanggung jawab,” jelas Henry.

Tapi, kalau benar AA itu dipulangkan menurut Henry, hal itu jelas merupakan preseden buruk bagi generasi milenial. Mengapa? “Anak-anak muda akan bilang, nanti bisa direhabilitasi. Kalau begini, tak bisa menciptakan sumber daya manusia yang bermartabat untuk Indonesia berdaulat,” ungkapnya.

Untuk itu dia mengusulkan UU Narkotika tahun 2011 ini direvisi. Karena dari 155 pasal hanya 37 pasal yang menjadi kewenangan BNN. Selebihnya menjadi kewenangan BPOM dan Kemenkes RI. “Harusnya semua kewenangan diberikan ke BNN. Sehingga kepala BNN bisa bekerja lebih tegas dan profesional seperti dilakukan Presiden Pilipina, Duterte.

Baca Juga :   PSI: Mau Keras atau Lembut, Pidato Prabowo Gak Ngaruh

“Saya siap. Selama 40 tahun di Granat (Gerakan Nasional Anti Narkoba), saya sudah habis sekitar Rp 10 miliar. Ini demi keselamatan generasi muda dan bangsa ini. Saya tak akan berhenti untuk melawan narkoba meski diteror,” pungkasnya.

Sulistiandriatmoko sependapat dengan Henry jika direhabilitasi tidaknya pengguna narkoba itu adalah hakim di pengadilan. Hanya saja yang direhabilitasi itu mereka yang masuk kategori pecandu akut.

“Kalau kondidisnya darurat narkoba, maka anggaran, penanganan, ada tenggang waktu yang khusus, dan metodenya juga harus khusus. Budi Waseso (Buwas) saat menjadi Kepala BNN pernah mengatakan sudah lelah karena berbagai keterbatasan,” ungkapnya.

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Loading…

Loading…

#Trending