Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Politik

DPR Prihatin dengan Wacana ‘Perang’ dalam Pilpres

Published

on

Jakarta,Realitarakyat.com. – Ketua DPR Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet merasa heran kenapa pilpres dianggap perang, apalagi perang badar. Padahal, pilpres lima tahunan ini antar sesama anak bangsa, yang seharusnya dijalani dengan riang-gembira.

“Pilpres ini bukan perkara hidup dan mati. Bukan juga perang badar. Maka rakyat tidak perlu menghiraukan pernyataan maupun manuver kelompok-kelompok tertentu yang ingin membangun persepsi kegaduhan politik menjelang pilpres 2019,” tegas politisi Golkar itu dalam keterangannya, Selasa (5/3/2019).

Bamsoet menyatakan keprihatinannya dengan wacana dan berbagai upaya kegaduhan yang diciptakan kelompok tertentu tersebut. Seperti upaya delegitimasi KPU yang terus dilakukan hanya untuk kepentingan diri sendiri.

“Dari awal sudah ada gerakan pembusukan terhadap KPU. Upaya delegitimasi KPU itu mudah terbaca arahnya. Mereka melakukan delegitimasi untuk menimbulkan kecurigaan pada independensi KPU,” ujarnya.

Sementara itu pemilunya sendiri belum dimulai sudah teriak-teriak KPU curang, meng-hoaks-kan ada 7 juta surat suara di kontainer sudah tercoblos, WNA masuk DPT, dan terakhir suarat suara sudah tercoblos di Medan Sumatera Utara.

“Jadi, motif dari manuver-manuver itu sudah terbaca arahnya. Yaitu upaya membangun kecurigaan terhadap independensi KPU. Kecurigaan itulah yang akan dijadikan alasan mereka untuk membuat gaduh,” jelas Bamsoet.

Menurut Bamsoet, istilah perang juga sangat berbahaya bagi masyarakat awam. Karena penggunaan kata ‘perang badar’ itu bisa menimbulkan rasa takut. “Takut akan terjadi bentrok antar-kelompok masyarakat atau takut akan chaos,” ungkapnya.

Karena itu kata Bamsoet, komunitas pengusaha sering bertanya tentang prospek stabilitas keamanan sebelum dan sesudah pilpres. Namun dia tetap meminta masyarakat tetap tenang karena stabilitas politik dan keamanan menjelang pilpres akan terus dikawal aparat TNI dan Polri.

Baca Juga :   Setara Institute: Terjadi Politisasi SARA Di Sumut dan Jabar

“Bersama TNI, Polri, pemerintah dan DPR memastikan bahwa stabilitas politik dan keamanan akan selalu terjaga. Baik sebelum maupun sesudah pelaksanaan pilpres 17 April 2019. Indonesia sangat kondusif, sehingga masyarakat tidak perlu risau dengan pernyataan-pernyataan yang menyesatkan menjelang pilpres,” pungkasnya.

 

Advertisement
Loading...
Loading…