Connect with us

Luar Negeri

Akibat Aalat Navigasi Rusak 23 Nelayan Indonesia Ditangkap Angkatan Laut Myanmar

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com. – 23 orang nelayan asal Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh, Indonesia kembali ditangkap oleh militer Angkatan Laut Myanmar. Mereka diduga melakukan penangkapan ikan secara ilegal di wilayah perairan negara tersebut.

Namun apa penyebab nelayan Indonesia itu bisa nyasar ke wilayah perairan negara Myanmar ?

Wakil Sekjen Panglima Laot Aceh Miftach Cut Adek saat dikonfirmasi RRI menjelaskan, ke 23 nelayan asal Idi itu diduga berlayar hingga ke wilayah perairan Myanmar karena alat navigasi rusak.

“Kompas penunjuk arah rusak sehingga saat mereka sedang melempar jaring untuk menangkap ikan tiba-tiba datang angkatan laut dan langsung menangkapnya,” kata Miftach lewat rilisnya yang diterima Realitarakyat.com. Rabu (13/2/2019).

Menurut informasi yang diterima, tambah Miftach, Angkatan Laut Myanmar menangkap kapal nelayan itu dalam posisi wilayah laut Myanmar dekat Pulau Zardatgyi di Kotapraja Kawthoung, Wilayah Taninthayi.

“Mereka kini telah diamankan. Semuanya nelayan Aceh. Posisinya tepat pada lokasi 16 nelayan asal Aceh yang sebelumnya ditangkap pada November 2018 lalu,” ujarnya.

Dia menjelaskan, penangkapan terjadi pada tanggal 6 Februari 2019 lalu. Pada saat itu Angkatan Laut Myanmar sedang berpatroli kemudian menemukan adanya nelayan Indonesia yang melakukan penangkapan ikan secara ilegal di wilayah Myanmar.

“Boat nelayan ini berukuran 60 GT. Boat seperti ini sudah dilengkapi dengan alat navigasi yang lengkap. Namun rusak. Boat nelayan ini memiliki panjang 62 kaki dan lebar 18 kaki,” ujarnya.

Miftach memastikan, 23 nelayan yang berlayar dari Idi Aceh Timur pada tanggal 29 Januari 2019 itu, tidak sengaja masuk ke wilayah perairan Myanmar.

“Memang kita ketahui, wilayah kita ini berbatasan dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia, Myanmar dan India,” ungkapnya.

Saat ini pihak Panglima Laot Aceh sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh untuk melakukan negosiasi agar para nelayan ini bisa dibebaskan.

“Kita sudah berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh, responya bagus dan mereka akan melakukan koordinasi dengan KBRI di Myanmar untuk mencari tahu informasi lebih jauh, sementara kita juga mendata 23 nelayan itu,” pungkas Miftach. (Mukmin)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

#Trending