Connect with us

Opini

Melayu sebagai Simpul Penyatu Tiga Kawasan Lintas Negara

Published

on

Oleh Erwin Syahputra S SH Pemred ,www.realitarakyat.com

Masyarakat perbatasan di Kepulauan
Batam terdiri atas berbagai etnis suku dari berbagai kawasan di Indonesia. Mulai dari suku Jawa, Sunda, Minang, Batak,Samawa,Sasak,Bali, Flores, Bugis, dan Melayu -termasuk Melayu Laut serta keturunan Tionghoa yang tak kalah
banyaknya. Melayu di kawasan perbatasan di Kepulauan Batam tidak saja merupakan etnis mayoritas, tetapi juga menjadi rujukan sosial-budaya bagi masyarakat setempat.

Sebagai etnis mayoritas, etnis yang datang ke kawasan ini misalnya dari Jawa, Minang, Bugis dan sebagainya menyesuaikan adat istiadat dengan kebudayaan Melayu. Seperti,cara berkomunikasi termasuk bahasa yang digunakan, masakan yang dimakan sehari-hari, falsafah hidup sehari-hari, dan sebagainya.

Pada umumnya, etnis di luar Melayu yang hidup di kawasan ini beradaptasi dengan kebudayaan Melayu. Hal ini semakin kuat ketika terjadi perkawinan silang antar-suku di kawasan perbatasan tersebut. Misal pemuda Melayu menikah dengan pemudi beretnis Sunda, mereka menikah dengan adat Melayu.

Akan tetapi putusan-putusan ini sifatnya
tidaklah statis, selalu ada perundingan antarkedua belah pihak .

Sistem kekerabatan dan lokalitas
cenderung diwarnai oleh tradisi-tradisi etnis Melayu. Unsur-unsur budaya baru yang diserap dari kehidupan masyarakat lokal segera menjadi bagian penting bagi masyarakat pendatang di pulau tersebut. Dominan tidaknya unsur budaya lama yang masih mewarnai kehidupan para pendatang etnis di luar kawasan perbatasan tentu sangat tergantung dari partisipasi mereka dalam kehidupan masyarakat.

Selain tingkat partisipasi atau keber-baur-an, hal ini juga dipengaruhi oleh
rentang waktu masyarakat pendatang tinggal dan menetap di kawasan tersebut.

Diperkirakan bahwa semakin tinggi tingkat partisipasi mereka dalam kehidupan masyarakat setempat akan semakin mudah pula mereka meninggalkan sebagian dari unsur-unsur budaya lama yang pernah menjadi bagian dalam kehidupan mereka.

Sebaliknya semakin rendah tingkat partisipasi mereka dalam kehidupan
masyarakat setempat akan semakin sulit pula bagi mereka untuk meninggalkan unsur-unsur budaya lama mereka. Selain itu, rentang waktu juga mempengaruhi pola kehidupan sosial dan budaya mereka.

Semakin lama mereka tinggal dan bergaul dalam masyarakat setempat akan semakin mudah pula bagi mereka untuk menyerap unsur-unsur budaya masyarakat lokal dan dengan sendirinya akan semakin mudah pula pengaruh unsur-unsur budaya tradisional mereka lupakan.

Semisal, orang orang Bugis yang sudah tinggal di kawasan Kepulauan Batam sejak tahun 1970 dan tak lagi pernah kembali ke tanah Bugis di Sulawesi,
sudah menjadi seperti orang-orang Melayu yang kehidupan sosial kulturalnya merupakan bagian dari etnis Melayu.

Sementara itu bagi, penduduk lokal
yang lahir dan besar di kawasan perbatasan di Kepulauan Batam yang beretnis Melayu, kemelayuan dipandang sebagai sesuatu yang lebih besar dan luas ketimbang hanya sebagai salah satu suku bangsa yang ada di Indonesia,
Singapura atau Malaysia.

Etnis Melayu yang tersebar pada tiga negara ini dipandang sebagai simpul pengikat, penyatu terutama bagi orang-orang Melayu yang tersebar lintas negara di Singapura dan Malaysia.

Hal ini diperlihatkan dalam praktik kehidupan keseharian masyarakat perbatasan. Ketika hari hari besar, seperti lebaran Idul Fitri, Idul Adha,
salah satu pulau kecil di Kepulauan Batam yakni Pulau Penawar Rindu di Kecamatan Belakang Padang, selalu dipenuhi oleh orang orang Melayu yang datang berlebaran dari Singapura dan Malaysia.

Lebaran yang identik dengan tradisi pulang kampung, dimaknai oleh mereka sebagai ajang berbagi bantuan sosial
kepada orang-orang di kampung halaman.

Bukan sesuatu yang baru bagi penduduk di pulau kecil ini bahwasanya anggota keluarga mereka berbeda warga negara, entah ibu, entah kakak, entah sepupu, dan sebagainya. Hal ini sudah menjadi umum ditemui dan akrab bagi mereka.

Menjaga persatuan masyarakat di
bawah kemelayuan dan kekeluargaan menjadi lebih utama dan penting ketimbang perbedaan warga negara.

Gagasan nasionalisme terhadap Indonesia yang dipahami seperti berupa cinta produk dalam negeri atau cinta rupiah bagi masyarakat perbatasan akan terlihat agak janggal dan menggelikan. Karena, kebutuhan hidup masyarakat dipenuhi justru oleh produk produk dari Singapura dan Malaysia.

Sementara mata uang kedua negara tetangga tersebut sehari-hari berseliweran di warung-warung,
kafe-kafe, penginapan-penginapan di kawasan perbatasan. Lihat saja di sudut-sudut kota Batam, di sepanjang trotoar pusat perbelanjaan,
gerai-gerai penukaran uang cukup banyak dan beroperasi hampir dua puluh empat jam.

Bayangan nasionalisme masyarakat
perbatasan di Kepulauan Batam ini agaknya tidak dapat disederhanakan dari persoalan konsumsi produk dalam atau luar negeri, pun juga pemakaian mata uang yang tidak didominasi oleh rupiah, apalagi persoalan multibahasa (multilingual) yang kerap merekalakukan dalam komunikasi sehari-hari –hal ini cenderung dipraktikkan oleh etnis MelayuTionghoa. Pun dengan kecenderungan orang – orang perbatasan yang memilih berobat ke Singapura atau Malaysia, bukan karena di kawasan ini tidak tersedia pelayanan kesehatan.

Kepulauan Batam sendiri memiliki sejumlah delapan unit rumah sakit yang enam unitnya dikelola oleh pihak swasta. Ada seratus enam puluh enam balai pengobatan yang tersebar pada dua belas kecamatan di Kepulauan Batam yang didominasi oleh pihak swasta.

Akan tetapi kecenderungan berobat ke Singapura dan Malaysia tetap cukup tinggi dengan pertimbangan ongkos yang dikeluarkan berobat di Kepulauan Batam sama atau beda tipis dengan berobat di negara tetangga dengan
kualitas yang lebih baik.

Dominasi ekonomi Singapura dan Malaysia di kawasan perbatasan Kepulauan Batam tidak serta merta membuat orang-orang di perbatasan
mengganti kewarganegaraan mereka menjadi warga asing.

Kesetiaan pada Indonesia tetaplah
tinggi mesti kecintaan itu beririsan dengan aspek kemelayuan yang sifatnya lintas negara, lintas teritori.

Jamak diketahui, kawasan perbatasan
di Indonesia kerapkali dibangun dengan
pendekatan keamanan dengan menyebarkan unsur militer di sepanjang kawasan perbatasan.

Hal ini berkaitan dengan logika pemerintah pusat yang ingin menampilkan Indonesia di perbatasan
secara tegas, berani, dan terkesan aman (Sanak, 2011).

Hal yang mirip sebenarnya terjadi di
kawasan perbatasan Kepulauan Batam. Pulau Penawar Rindu, Kecamatan Belakang Padang, salah satu pulau deretan paling depan yang berhadapan dengan Singapura; menginjakkan
kaki pertama kali di pelabuhan pulau ini
kita akan disuguhkan dengan pemandangan yang sangat militeristik.

Pos TNI AL, Pos Polisi, Pos Koramil tegak berderetan di bibir gerbang pulau ini.

Pos-pos ini berdekatan dengan kantor pos, pasar, dan pemukiman penduduk.

Hal ini menjelaskan bahwa negara
Indonesia selalu mengingatkan penduduk perbatasan di sana sebagai warga negara dan menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berbeda dengan Singapura atau
Malaysia.

Pemandangan yang militeristik ini
sebenarnya juga berkaitan dengan kisah heroik kepahlawanan masyarakat Indonesia ketika berhadapan dengan Jepang pada Perang Dunia II maupun ketika terjadi gesekan antara Indonesia
dengan Malaysia pada tahun 1960an.

Bayangan ini juga turut membentuk kecintaan, rasa memiliki, dan pembelaan terhadap Indonesia sehingga tetap ada pada masyarakat perbatasan (Liat Heng, 64 tahun, pedagang makanan dan
penyedia jasa perahu pancung.

Kesimpulan:

Masyarakat perbatasan di Kepulauan
Batam membayangkan nasionalisme terhadap Indonesia itu secara ‘khas’ dan berbeda dengan masyarakat yang berada di kawasan non-perbatasan atau kawasan perbatasan non-laut di Indonesia.

Masyarakat perbatasan dalam membayangkan nasionalisme tidak
bisa dilepaskan dari pertalian atau kedekatan budaya dengan masyarakat dari negara tetangga Singapura dan Malaysia.

Selain ikatan dan kedekatan budaya, masyarakat perbatasan juga mesti berhadapan dengan kondisi perekonomian atau relasi ekonomi yang cenderung masih didominasi oleh dua negara tetangga tadi, Singapura dan Malaysia.

Dalam hal pertalian atau kedekatakan budaya, dalam membayangkan nasionalisme terhadap Indonesia, masyarakat perbatasan tidak bisa dilepaskan dari Melayu sebagai simpul
pengikat secara sosial dan budaya yang sudah menyejarah sejak berabad silam di kawasan perbatasan ini.

Melayu dan kemelayuan menjadi
raison d’etre bagi masyarakat perbatasan untuk mendefi nisikan diri mereka secara sosial dan politik yang berelasi dengan banyak hal dan kepentingan yang sifatnya tidak saja domestik tapi juga lintas-negara. Melayu tersebar pada tiga kawasan tersebut yang berbeda sama sekali secara geo-politik.

Orang Melayu yang berada di Pulau Penawar Rindu merupakan warga negara Indonesia, yang berinteraksi secara intens dengan sesama orang Melayu
yang merupakan warga negara dari Singapura dan Malaysia.

Selain interaksi, masyarakat perbatasan juga melakukan mobilitas yang cukup tinggi ke negara tetangga, seperti masih
memiliki ikatan kerabat di negeri seberang.

Kondisi seperti ini sudah dipraktikkan sejak masa lalu ketika hubungan Indonesia dengan Malaysia dalam keadaan mesra dan hangat (pra-konfrontasi dengan Malaysia).

Pun jika ingin membingkainya dalam perspektif sejarah, sejak zaman Kesultanan Malaka pada abad 14-15, masyarakat di tiga kawasan ini sudah berbaur dan terbuka dengan berbagai perbedaan etnis dan agama.

Persoalan ekonomi agaknya tidak cukup
untuk menjelaskan bayangan nasionalisme terhadap Indonesia. Relasi yang erat bahkan ketergantungan yang cukup tinggi secara ekonomi dengan negara tetangga, tidak dapat serta merta dikatakan membuat masyarakat perbatasan ingin pindah, menetap, dan menjadi penduduk Singapura ataupun Malaysia.

Buktinya, rasa nasionalisme itu dijelaskan melebihi dari sekadar pemenuhan kebutuhan ekonomi yang memang ditopang oleh negara tetangga.

Masyarakat perbatasan mengaku
mencintai dan membela Indonesia dengan kondisi yang ‘terbelah’, karena pada saat yang bersamaan juga beririsan dengan kemelayuan yang sifatnya lintas negara.

Masyarakat perbatasan di Kepulauan Batam secara geo politik merupakan penduduk Indonesia.

Akan tetapi, pertalian dan kedekatan bersama di bawah payung Melayu mengalahkan kekuatan ideologi negara dan teritori yang memisahkan masyarakat perbatasan, baik Indonesia, Singapura maupun Malaysia.

Tidak berarti masyarakat perbatasan tidak cinta Indonesia atau tidak nasionalis. Pengalaman sejarah dan pengalaman kultural bersama inilah yang kemudian memberikan warna, corak, atau kekhasan tersendiri bagi masyarakat perbatasan ketika membayangkan atau mendefiniskan nasionalisme tersebut.*****

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

#Trending