Connect with us

Opini

Kampus dan Kreativitas Era Industri 4.0

Published

on

Kampus dan Kreativitas Era Industri 4.0

Oleh: Razali Ismail Ubit

Menghadapi era Industri 4.0 yang menyebabkan disrupsi lapangan kerja yang sangat besar ini mengharuskan perguruan tinggi merombak format metode dan kurikulumnya. Sehingga target perguruan tinggi di dunia selama ini yang cenderung menekankan kepada menghasilkan sarjana yang siap mengisi lapangan kerja, sepertinya sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak relevan lagi.

Seharusnya setiap kampus memikirkan ulang strategi dalam mengelola kampus dan harus mempersiapkan diri untuk menjadi produsen penghasil sarjana yang siap berkembang.

Insan yang siap berkembang adalah insan yang kreaktif dan inovatif. Ia tidak hanya berjuang untuk mendapatkan pekerjaan, tetapi cenderung berusaha mencipta pekerjaan dan tentu dengan demikian lapangan kerja, baik untuk dirinya maupun juga untuk orang lain. Timbul pertanyaan, apakah kreativitas dapat diajarkan? Apakah kreativitas itu seni atau ilmu?

Kedua, pertanyaan tersebut penting untuk dijawab, karena jika kreativitas itu adalah ilmu atau seni, maka kreativitas bisa diajarkan kepada mahasiswa. Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, maka ada baiknya kita terlebih dulu mendefinisikan kata kreativitas

Kreativitas

Bagi banyak orang awam, kata “kreatif” membangkitkan gambaran para novelis, penyair, komposer, dan seniman visual. Jika diminta, mereka akan mengakui kreativitas matematikawan/fisikawan, seperti Albert Einstein (1879-1955) atau penemu seperti Thomas Edison (1847-1931), tetapi ada kecenderungan umum untuk menganggap bahwa kreativitas lebih terkait dengan seni daripada ilmu.

Menurut Amabile, kreativitas adalah keterampilan yang dapat dikembangkan dan suatu proses yang dapat dikelola. Kreativitas dimulai dengan landasan pengetahuan, belajar disiplin, dan menguasai cara berpikir. Kita belajar menjadi kreatif dengan bereksperimen, mengeksplorasi, mempertanyakan asumsi, menggunakan imajinasi, dan menyintesis informasi.

Dengan demikian, kreativitas adalah keterampilan. Keterampilan dapat diajar dengan pendekatan yang berbeda dengan mengajarkan ilmu dan seni. Belajar menjadi kreatif sama dengan belajar olahraga. Dibutuhkan latihan untuk mengembangkan otot yang tepat dan lingkungan yang mendukung untuk berkembang.

Kreativitas penting untuk ilmu pengetahuan dan seni. Pertama, gagasan kreativitas memainkan peran penting dalam praktik artistik, apresiasi estetika, dan kesuksesan ilmiah. Kedua, keberhasilan dalam sains dan seni sering dikaitkan dengan kejeniusan kreatif, sebuah gagasan yang patut diteliti dan dikritik. Dan, ketiga, memahami dan merefleksikan sifat kreativitas telah menjadi fokus bagi para peneliti dari kedua kegiatan tersebut.

Sayangnya, untuk sebagian besar, kreativitas telah dikubur oleh aturan dan peraturan. Sistem pendidikan kita telah dirancang selama Revolusi Industri lebih dari 200 tahun yang lalu, untuk mengajarkan kita menjadi pekerja yang baik dan mengikuti instruksi. Ya, keterampilan kreativitas dapat dipelajari. Bukan dari duduk di bangku kuliah, tetapi dengan belajar dan menerapkan proses berpikir kreatif.

Jika kreativitas dapat diajarkan, bagaimana cara melakukannya? Berikut kita kutip resep IBM Executive School dalam mengembangkan kreativitas siswanya:

Pertama, metodologi pengajaran tradisional seperti membaca, mengajar, menguji, dan menghafal lebih buruk daripada tidak berguna. Sebagian besar pendidikanberfokus pada memberikan jawaban secara linier langkah demi langkah. Padahal pertanyaan-pertanyaan yang sangat berbeda secara non-linear adalah kunci untuk kreativitas.

Kedua, menyadari bahwa kita tidak belajar menjadi kreatif. Kita harus menjadi orang yang kreatif. Seorang anggota marinir tidak belajar menjadi seorang marinir dengan membaca manual. Ia menjadi seorang marinir dengan menjalani kerasnya kamp pelatihan. Seperti ulat yang menjadi kupu-kupu, ia berubah menjadi marinir. Kelas, kuliah, dan buku ditukar dengan teka-teki, simulasi, dan permainan. Ketiga, menemukan bahwa kreativitas sangat berkorelasi dengan pengetahuan diri. Tidak mungkin untuk mengatasi bias jika kita tidak tahu mereka ada di sana, dan sekolah ini dirancang untuk menjadi cermin besar.

Akhirnya dan mungkin yang paling penting, mereka memberi izin kepada muridnya untuk salah. Setiap ide hebat tumbuh dari pot tanah yang buruk, dan satu alasan terbesar mengapa kebanyakan dari kita tidak pernah hidup sesuai dengan potensi kreatif kita adalah karena takut membuat diri kita sendiri menjadi bodoh. Bagi mereka, tidak ada ide buruk atau ide salah, namun yang ada adalah bagaimana membangun blok untuk ide yang lebih baik.

Sungguh penting kreativitas ini bagi setiap insan, baik bagi seorang ilmuwan maupun seniman. Ilmuwan dan seniman yang tidak kreatif, maka ia tidak akan berkembang dalam profesinya. Setiap perguruan tinggi harus membuka pikiran dan hatinya, bahwa kini zaman sudah sangat berubah.

Keterjebakan dalam perangkap sebagai universitas yang unggul, sehingga terus merasa dalam zona nyaman akan membuat universitas berkenaan tidak kreatif dan inovatif. Untuk itu, perlu dipikir ulang metode perkuliahan dan kurikulum untuk menghasilkan sarjana yang siap berkembang atau sarjana yang kreatif dan inovatif. Sarjana yang siap berkembang mestilah memiliki kemampuan dalam mengatasi tirani ketakutan, perfeksionisme dan kritik.

Di samping itu, ia juga harus mampu berimprovisasi, merumuskan ide, mengevaluasi ide, membuat prototipe, menguji, dan mengubah ide menjadi produk. Hal ini akan terwujud jika kepada mahasiswa diberi ruang yang luas untuk berpikir secara tak biasa, sehingga menghasilkan ide yang sama sekali baru. Mendorong setiap mahasiswa mengikuti berbagai lomba akan membantu mereka berimprovisasi, menemukan ide-ide baru dan mengembangkannya, dan pada akhirnya ia akan menciptakan lapangan kerja baru untuk dunia. Semoga!

*Penulis adalah Mahasiswa Magister Ilmu Hukum Universitas Surakarta *

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

#Trending