Connect with us

Kesehatan

1.376 Warga Kota Kupang Mengidap HIV/AIDS

Published

on

Kupang, realita rakyat.com – Ditahun 2018 sedikitnya 1.376 warga Kota Kupang mengidap HIV/AIDS. Dari jumlah tersebut 960 orang mengidap HIV dan 416 AIDS.

Dimana dari jumlah tersebut kebanyakan penderita merupakan pekerja swasta mencapai 20 persen (%) dan 13 persen diantaranya merupakan Ibu Rumah Tangga (IRT).

Demikian diungkapkan sekretaris KPA Kota Kupang, Steven Manafe kepada wartawan, Jumat (30/11).

Steven mengatakan, salah satu upaya Pemkot Kupang untuk meminimalisir penyakit berbahaya itu dengan menutup tempat tempat lokalisasi Karang Dempel, dan semua tempat yang terindikasi ada praktik-praktik prostitusi. Hal ini tentu akan mendatangkan banyak pro dan kontra.

Salah satu dampak ikutannya adalah penyebaran HIV dan AIDS. Karena itu, KPA Kota Kupang mengajak kerja sama Jurnalis Peduli AIDS untuk bersama-sama mengedukasi masyarakat tentang apa itu HIV dan apa itu AIDS.

“Banyak orang seringkali salah menerjemahkan. HIV dan AIDS kadang dijadikan sama, padahal sebenarnya keduanya berbeda. Hal ini yang perlu diedukasi ke masyarakat,” kata Steven.

Jurnalis, kata dia, merupakan ujung tombak untuk sosialisasi dan edukasi masyarakat. Semua program KPA telah berjalan, baik itu Warga Peduli AIDS (WPA) yang ada di setiap kelurahan, maupun kerja sama dengan beberapa LSM pendamping.

KPA merasa penting untuk menjalin kerja sama dengan jurnalis, sebagai corong edukasi di masyarakat.

Dalam kesempatan terpisah, Monika Watun salah satu Dosen Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang mengatakan bahwa tulisan yang diproduksi tidak mengintimidasi, misalnya kata penderita yang ditujukan bagi mereka yang ODHA. Pemilihan kata dalam berita perlu diperhatikan agar tidak ada unsur diskriminasi.

“Ada pemilihan kata yang harus diperhatikan dalam penulisan berita, misalnya kata penderita. Hal ini sama dengan kita membuat mereka menderita berulang kali ketika membaca tulisan di media, mengelompokan mereka dalam sebuah kumpulan orang sakit, itulah yang harus diperhatikan,” kata Monika.

Dia menjelaskan, dalam penulisan berita, jangan ada diskriminasi atau keberpihakan apalagi opini penulis dimasukan dalam berita.

“Dalam berita khususnya berita HIV dan AIDS, jurnalis harus memberikan sebuah tulisan berkualitas dengan mengedepankan rasa empatinya. Dengan begitu, tulisannya pun akan menjadi penyemangat bagi ODHA,” pungkas Monika.(rey)

Advertisement
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement

#Trending