Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

INILAH PROYEKSI NILAI KERUGIAN DIVESTASI SAHAM MILIK DAERAH NTB DI PT. NEWMONT NUSA TENGGARA

Published

on

Jakarta, Realitarakyat. com. – Setelah beredar kabar Gubernur NTB ,TGB M Zainul Majdi diperiksa oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait Klasifikasi atas Laporan Masyarakat terhadap KPK, Sehingga bermunculan tanggapan para Tokoh – Tokoh nasional terhadap saham PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) tersebut.

Salah satunya, Tokoh Praktisi dan Penasehat Keuangan Pasar Modal, M. Chairul Imran Mengatakan, Pasca divestasi penjualan saham milik daerah NTB di PT. Newmont Nusa Tenggara (NNT), melalui entitas anak usahanya PT. Daerah Maju Bersaing (DMB), hingga saat ini masih menyisakan polemik.

“Memang benar ,Mulai Pembentukan sampai Penjualan Saham PT Newmont ini masih menjadi polemik” Ucap M. Chairul Imran kepada Wartawan di Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Lanjut Tokoh Praktisi dan Penasehat Keuangan Pasar Modal ini, Selain masalah tentang penyelesaian pembayaran hasil divestasinya yang belum tuntas, juga masalah tentang seberapa besar potensi nilai kerugian divestasinya. Karena hingga saat ini belum ada release data resmi tentang nilai kerugian tersebut.

“Berdasarkan valuasi terhadap nilai pembelian sahamnya pada akhir tahun 2009 dan nilai penjualan sahamnya pada akhir tahun 2016, total nilai kerugian divestasi sahamnya diperkirakan mencapai Rp 1,574 Triliun. Jadi Potensi kerugian ini merupakan indikasi kerugian DMB, yang harus dibuktikan dengan data keuangan hasil audit akhir DMB. ” Ucapnya.

Berikut Dugaan Data Kerugian Negara Versi M. Chairul Imran antara lain :

*1. Kerugian Karena Mekanisme Pasar.*

Yaitu kerugian yang disebabkan karena turunnya harga realisasi penjualan sahamnya, harga belinya lebih tinggi dibanding harga jualnya, sehingga menyebabkan nilai investasi sahamnya menurun. Hal ini terjadi murni karena mekanisme pasar, kerugian bisnis semacam ini lumrah dalam dunia bisnis pasar modal kalau tidak untung ya rugi.

Baca Juga :   Sulut Kembali Di Guncang Gempa dengan Kekuatan 5,0 SR

Nilai kerugian penjualan saham tersebut diperkirakan mencapai Rp 733 Miliar, atau rugi 35,9% dari total nilai pembelian sahamnya senilai Rp 2,043 triliun. Dalam istilah pasar modal hal ini disebut sell at discount atau cut loss. Keputusan jual rugi oleh para pemegang saham tersebut, disebabkan karena bisnis usaha tambang tersebut sudah tidak memiliki prospek yang baik lagi. Untuk menghindari kerugian yang lebih besar dan penurunan harga jual saham yang lebih dalam lagi, maka para pemegang saham mengambil langkah yang strategis dengan melakukan penjualan sahamnya melalui mekanisme divestasi.

*2. Kerugian Karena Selisih Nilai Penerimaan.*

Yaitu kerugian yang timbul karena adanya selisih antara nilai penjualan saham dengan nilai divestasi yang diterima. Selisih ini kemungkinan akan dicatatkan sebagai biaya oleh DMB, namun seluruh biaya tersebut belum dapat diklasifikasikan sebagai biaya yang wajar dan dapat dipertanggung jawabkan (unaudited).

Seluruh biaya tersebut wajib mengacu pada Perjanjian Kerja Sama (PK) antara DMB dan Multi Capital, terutama biaya-biaya yang menjadi kewajiban DMB. Total biayanya diperkirakan mencapai Rp 840,7 miliar atau 64,2% dari total nilai penjualan porsi saham milik DMB senilai US$ 100 juta atau setara Rp 1,31 triliun.

Selisih nilai penerimaan ini nilainya sangat fantastis, karena nilai divestasi bersih yang diterima DMB jauh lebih kecil, hanya senilai Rp 469,3 miliar atau 35,8% dari nilai netto penjualan saham tersebut. Mengingat besarnya biaya yang tidak lazim tersebut, maka wajib dilakukan audit investigatif dan dipertanggungjawabkan melalui mekanisme RUPS Luar Biasa.

Rekapitulasi kerugian divestasi tersebut, dapat diilustrasikan sbb :

*Asumsi :*

1. Porsi saham DMB di MDB 25%, porsi saham MDB di PT. NNT 24%.

Baca Juga :   HUT TNI Ke - 72. Inilah Kecanggihan Alutsista Dan Prajurit TNI

2. Kurs jual dolar BI, saat pembayaran divestasi tgl 2 Nov 2016 Rp 13.100

3. Kurs jual dolar BI, saat pembelian saham, tgl 31 Desember 2009 Rp 9.500

*1. Kerugian Karena Mekanisme Pasar*
(Market Loss Value/MLV)

Rumus :

MLV = Harga Jual – Harga Beli

= (US$ 400 juta x 25%) – (US$ 860 juta x 25%)

= (US$ 100 juta x Rp 13.100) – (US$ 215 juta x Rp 9.500)

= Rp 1,310 T – Rp 2,043T

= *- Rp 733 Miliar*

*2. Kerugian Karena Selisih Nilai Penerimaan*
(Loss Income Value/LIV)

Rumus :

LIV = Harga Jual Netto – Dana Divestasi

= (US$ 100 juta x Rp 13.100) – Rp 469,3 Miliar

= Rp 1,310 T – Rp 469,3 M

= *Rp 840,7 Miliar*

*3. Total Nilai Kerugian Divestasi*
(Total Loss Value/TLV)

Rumus :

TLV = MLV + LIV

= Rp 733 M + Rp 840,7 M

= *Rp 1,574 Triliun*

Bahkan dengan meggunakan logika yang sangat sederhanapun, total kerugian tersebut dapat dihitung dengan cara sbb :

TLV = Harga Beli – Dana Divestasi

= Rp 2.043 T – Rp 469,3

= *Rp 1,574 Triliun*

Jadi sehebat apapun upaya-upaya pihak tertentu untuk merekayasa kenyataan, bahwa kehadiran DMB memberikan azaz manfaat ekonomi yang besar kepada para pemegang saham, namun tidak akan mampu menutupi fakta bahwa telah terjadi kerugian senilai Rp 1,574 Triliun dalam proses divestasi tersebut.

Total nilai kerugian ini murni hanya untuk menghitung seberapa besar nilai Profit/Loss divestasinya saja, tanpa memasukan variabel total nilai deviden yang telah diterima sebagai faktor pengurang nilai kerugian.

Variable Rugi/Laba divestasi tercipta melalui suatu proses transaksi penjualan saham, sedangkan deviden tercipta melalui suatu siklus proses usaha/bisnis. Jadi esensinya ini memang dua hal yang berbeda. Kecuali jika ingin menghitung nilai azaz manfaat investasinya, maka total Profit/Loss tersebut dapat ditambahkan dengan nilai divestasi netto plus total nilai deviden yang diterima.

Baca Juga :   Densus 88 Berhasil Tembak Mati Terduga Teroris di Bima

Kerugian divestasi tersebut belum termasuk kerugian karena hilangnya potensi pendapatan bunga, karena dana divestasi tersebut belum diterima oleh DMB hingga saat ini. Jika dana divestasi sebesar 469,3 miliar tsb di depositokan selama 18 bulan, sejak dana tersebut diterima, dengan bunga gross 6% pertahun, maka DMB akan memperoleh pendapatan bunga sekitar Rp 40 miliar.

Divestasi ini boleh dikatakan divestasi yang kurang menguntungkan bagi DMB, pemegang saham dan masyarakat NTB, karena banyak kejanggalan yang terjadi berdasarkan hukum bisnis.

Selain itu M. Chairul Imran juga mengatakan, terjadi kerugian nilai divestasi yang sangat besar, pembayaran hasil divestasinya yang tidak sesuai perjanjian dan azaz manfaat tambangnya yang tidak sebanding dengan nilai kerusakan lingkungan. Sehingga wajar KPK harus mengusut tuntas kerugian negara ini, “Tutupnya. (Es)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Hukum

Pemerintah Pastikan Tak Lemahkan KPK

Published

on

Continue Reading

Nasional

Menkopolhukam Minta Demonstran Tertib Sampaikan Aspirasi

Published

on

Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Kemanan (Menkopolhukam) Wiranto (kanan-depan)
Continue Reading

Nasional

DPR Setuju Tunda Pengesahan RUU PAS

Published

on

Continue Reading




Loading…