Connect with us
https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Nasional

Fahri Hamzah: Nasib Pengungsi Gunung Harus Dipikirkan Jangka Panjang

Published

on

Jakarta, Realitarakyat.com.-Aktivitas Gunung Agung di Kabupaten Karangasem, Bali, yang makin meningkat membuat Pemprov Bali terus mengantisipasi keadaan. Bahkan beberapa kelompok masyarakat sudah mengungsi ke lokasi-lokasi yang dianggap aman dari Kawasan Rawan Bencana (KRB).

Menyikapi hal tersebut, Wakil Ketua DPR RI Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat (Korkesra), Fahri Hamzah menyebutkan bahwa status kebencanaan boleh saja sementara, namun untuk pengungsi harus dipikirkan nasibnya secara jangka panjang. “Artinya bagaimana masyarakat bisa pindah secara permanen,” kata Fahri Hamzah kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/10).

Pemerintah, lanjut Fahri, punya pengalaman soal penanganan Gunung Sinabung di Sumatera Utara. Setidaknya banyak mendengar dari para ahli gunung merapi.

“Jadi masalah pengungsi ini harus dipikirkan mengenai mata pencaharian atau sumber pendapatan, lalu kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak,” tambahnya.

Melalui pemikiran panjang status pengungsi itu, lanjut politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini, maka sektor pariwisata Bali tidak terganggu. Karena mayoritas Bali mengandalkan pendapatan dari industri pariwisata.

“Apalagi bencana alam Bali ini, bukan hanya menjadi perhatian nasional saja, tetapi juga dunia internasional,” paparnya.

Fahri sendiri mengaku pihaknya juga akan menggelar kegiatan parlemenen berskala internasional. “Kita berharap jangan sampai mengganggu agenda juga. Karena saya akan menyelenggaran kegiatan parlemen dunia di Bali, 2018,” ujarnya.

Sebelumnya, Gubernur Bali I Made Mangku Pastika memerintahkan kepada desa atau kades di wilayah Kabupaten Karangasem, untuk menampung para pengungsi Gunung Agung.

“Saya sudah kumpulkan kepada desa dan pada dasarnya mereka sudah siap. Di Karangasem ada 50 desa yang aman jika Gunung Agung benar-benar meletus. Jadi tolonglah tampung saudara-saudara kita yang ada di pengungsian,” katanya belum lama ini.

Menurut dia, kondisi di tenda-tenda pengungsian sangat tidak layak untuk tempat tinggal jangka panjang, jika berdasarkan pada pengalaman letusan Gunung Agung pada 1963 lalu yang tercatat sampai satu tahun lamanya.

Baca Juga :   Agun Gunandjar: KPK Kembali Tidak Penuhi Panggilan Pansus Hak Angket DPR

Selain itu, suasana tenda yang panas dan berdebu juga menjadi kendala. Hal tersebut dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap kesehatan pada pengungsi yang jumlahnya puluhan ribu orang.

“Siang-siang itu luar biasa panasnya. Kalau satu sampai dua minggu mungkin tidak akan menjadi masalah, tetapi kalau sampai satu tahun itu kasihan juga,” kata Pastika.

Bekas Kapolda Bali itu juga menilai di setiap desa yang ada memiliki balai desa dan balai banjar (dusun). Gedung tersebut (balai) dinilai sangat representatif untuk lokasi pengungsian dalam jangka waktu panjang.

“Selain karena lebih aman, tentu bantuan logistik lebih mudah disalurkan bekerja sama dengan kepada desa dan kepala adat di wilayah tersebut,” tutupnya. (Erwin s)

Loading...
Loading...
Click to comment

Leave a Reply

Nasional

Moeldoko: Tak Boleh Demo Agar Pelantikan Presiden Bisa Khidmat

Published

on

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko / Net
Continue Reading

Nasional

Rentan Konflik dan Berbiaya Tinggi, Pengamat ini Sarankan Pilkada Dikembalikan ke DPRD

Published

on

Pengamat politik, Munandi Saleh (foto:ist/net)
Continue Reading

Nasional

NPHD Cair, Anggaran Harus Dibagi Proporsional

Published

on

Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum Racmat Bagja. (Foto: Ist/Net)
Continue Reading




Loading…