GP Ansor Melayu Masih Dipersekusi Pendukung UAS

JAKARTA, Kegiatan ‘Kirab Satu Negeri GP Ansor’ Riau dan Sumatra Barat dihambat dengan berbagai cara hingga ancaman fisik dari puluhan orang yang mengaku ‘orang melayu’.

Bahkan mereka mengalami pengusiran dari masjid saat akan melakukan shalat berjamaah. Namun semua perlakuan itu direspon dengan pasif dari ratusan Banser karena tak ingin memperkeruh suasana menjelang Pilpres 2018 ini.

“Aasan penolakan itu karena Banser dianggap pernah menolak UAS. Meski sudah kita jelaskan, tetap saja tak terima. Bahkan kami sudah berulangkali meminta maaf ke UAS, tapi sampe saat ini tak direspon. Semoga hati ulama sekelas UAS berkenan berbagi maaf kepada sesama muslim,” demikian keterangan Purwaji, Ketua PW GP Ansor Riau, Kamis ( 28/9).

Karena itu GP Ansor Riau sudah menempuh langkah-langkah klarifikasi kepada lembaga adat melayu (LAM) agar berkenan melalukan mediasi.

“Dengan silaturrahim inilah, UAS bisa ikut meminimalisir terjadinya kesalahfahaman diantara sesama muslim. Lebih dari itu, juga ikut menjaga suasana sejuk karena mis-persepsi terhadap Banser ini lebih banyak disebabkan ‘gorengan-gorengan’ di Medsos yang tidak faktual,” kata Purwaji.

Selain melalui forum pengajian maupun lewat media massa, ajakan klarifikasi dan permohonan maaf itu sudah berulangkali disampaikan kepada UAS, namun hingga kini belum ada respon. “Ya sudahlah, kami sebagai muslim sudah menjalankan kewajiban yakni meminta waktu untuk tabayyun sekaligus mohon maaf. Semoga semua ini ada hikmahnya buat kami,” jelas Purwaji lagi.

Meski belum mendapatkan respon dari UAS, tapi LAM Riau justru yang menyambut hangat langkah-langkah yang ditempuh Ansor setempat. Namun, anehnya sejumlah oknum pemuda justru memprovokasi suasana, termasuk oknum-oknum beratribut FPI. Tapi tak ditanggapi oleh LAM maupun GP Ansor karena tak ingin memicu konflik horisontal berkepanjangan.

Kendati demikian, aksi penolakan terhadap kegiantan GP Ansor merebak di berbagai daerah Riau. Di Siak agenda ‘Kirab Satu Negeri’ – “Haul Sultan Siak” dihadang massa. Seratusan massa menolak GP Ansor masuk ke Lapangan Siak Bermadah.

Siak pada malam itu 22 September mencekam. Ada rekaman seruan seorang laki laki mengimbau agar pemuda Melayu keluar membela marwah karena yang di lapangan siak bermadah kalah jumlah dengan Banser yang datang lebih dari 1000 personel. Beberapa akun FB juga terekam membuat status provokasi ‘Siak berdarah malam ini’.

“Saya dan 1000 – an Banser memilih mundur, tidak boleh ada benturan. Saya memenuhi permintaan Habib Umar, Ketua FPI Siak untuk meminta maaf kepada UAS. Permohonan maaf saya itu direkam dan disebarkan, tapi tetap saja kami harus pindah dari lapangan Siak Bermadah. Saya mengalah, kami menggelar HAUL di Masjid Islamic Center Siak, bukan di Lapangan depan istana yang sudah disiapkan,” kata Purwaji.

Aksi perseksi terhadap GP Ansor juga belum mereda, bahkan agenda berikutnya di Bengkalis 23 September dilakukan lebih ekstrim. Rombongan Ansor di Bengkalis dihadang massa. Mobil rombongan KIRAB dirusak massa, anak anak muda yang anarkis, marah, mengumpat, mengamuk.

“Saya ditemukan dengan beberapa perwakilan massa. Ada dua isu pokok, pertama soal Islam Nusantara dan kedua soal UAS. Saya diminta meminta maaf kepada UAS. Permintaan itu saya penuhi, saya meminta maaf kepada UAS untuk kali kedua. Seraya saya sampaikan bahwa saya sudah minta bertemu dengan UAS. Tapi tetap saja kami tidak boleh menghadiri acara Bantan Bersholawat dan penyerahan donasi “Ansor Peduli Pesantren” yang sudah disiapkan panitia lokal di Bantan,” tutur Ketua Ansor Riau itu.

Namun, kisah persekusi terhadap Ansor masih berlanjut. Pasukan Pembawa Bendera KIRAB SATU NEGERI terpaksa dipulangkan malam itu juga dengan pengawalan ketat polisi dari Polda Riau, Polres Bengkalis dan Siak.

Untuk menghindari aksi serupa, Purwaji memberangkatkan rombongan jam 1 dinihari ke Selat Panjang. “Sesampai di Selat Panjang 24 September, kami kembali diminta meminta maaf kepada UAS. saya pun menyanggipi permohonan maaf saya di hadapan masaa pengunjuk rasa di lapangan depan Rumah Dinas Ketua DPRD Meranti. Ini adalah kali ketiga permohohanan maaf kepada UAS,” ungkapnya.

Di Meranti GP Ansor bersepakat kegiatan Halaqah Kyai Muda se Meranti bisa tetap dilaksanakan dengan syarat permohonan maaf kepada UAS dibacakan sebelum kegiatan dimulai. “Saya menangis sebab ANSOR dihakimi menyebar kesesatan Islam Nusantara, dan mempersekusi UAS”.

Namun, polemik belum akan selesai. Larangan LAM SIAK agar Ansor tidak berkegiatan di Siak dan Bumi Melayu Riau belum dicabut.

Masalah merembet ke Dumai. Spanduk GP Ansor di dua titik yang dipasang sejak empat bulan lalu dicopot paksa oleh beberapa orang. Aksi di Dumai itu menyusul aksi serupa di Bengkalis sehari sebelumnya.

Dengan tiga permohonan maaf yang sudah dilakukan Ketua GP Ansor Riau kepada Datuk Ulama Setia Negara Ustad Abdul Somad tentu diharapkan UAS berkenan menerima dan bertemu dengan Ansor.

“Agar apa? Untuk meneladankan kepada ummat, bahwa kita bisa menyelesaikan konflik dengan cara beradab tanpa kekerasan. Semoga UAS mau meluangkan waktunya untuk menenangkan ummat yang menolak Ansor atas dasar pembelaan kepada Beliau,” harap Purwaji.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *