KPAI Nilai Perpres Pendidikan Karakter Sulit Diimplementasikan

Jakarta, liputan.co.id – Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Retno Listyarti menilai Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 87 tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, cukup sulit untuk diimplementasikan.

Sebab menurut Retno, secara makro bahasa yang dipakai dalam Perpres tersebut rawan multi-tafsir.

“Saya lupa pasalnya yang menuliskan kata olah rasa, olah raga dan olah pikir. Begitu bahasanya dalam Perpres tersebut. Inikan sulit diimplementasikan,” kata Retno, dalam Dialektika Demokrasi “Perpres Pendidikan Berkarakter, Efektifkah”, di Media Center DPR RI, Kompleks Parlemen, Senayan Jakarta, Kamis (7/9/2017).

Oleh karena itu, dia mendesak pemerintah untuk sesegera mungkin melengkapi Perpres itu dengan petunjuk teknis sehingga bisa diimplementasikan dan tidak ditafsirkan sendiri-sendiri.

Selain itu, Retno juga mengkritisi wacana pendidikan vokasi yang juga dicanangkan oleh pemerintah akhir-akhir ini.

“Sekarang isunya diperbanyak pendidikan vokasi. Masalahnya nanti, apakah lulusan pendidikan vokasi ini sudah disediakan penampungannya dalam bentuk lapangan pekerjaan?,” tanya dia.

Retno mengingatkan, jangan ulangi cara-cara pemerintah dalam menggenjot sekolah menengah kejuruan (SMK) yang hanya belajar teori terus.

“Ada ungkapan sekolah kejuruan itu ibarat SMK sastra, teori terus tanpa praktik. Ketika mereka praktik kerja, mereka tak bisa melakukan pratik kejuruannya itu. Paling disuruh beli makanan atau fotokopi dokumen kantor,” tegasnya.

Jadi jangan heran imbuh Retno, lulusan balai latihan kerja lebih diminati dunia industri ketimbangan lulusan SMK.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *